Selasa, 02 April 2019

RADEN SALEH PERINTIS SENI RUPA MODERN INDONESIA


Raden Saleh adalah pelukis terkenal Indonesia yang lahir di Semarang, Hindia Belanda dengan nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman. Beliau merupakan pelukis Indonesia yang memiliki etnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia. Raden Saleh merupakan keturunan Jawa ningrat yang mana beliau adalah cucu dari Sayyud Abdoellah Boestaman. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja yang merupakan keturunan Arab. sedangkan Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen yang berasal dari Semarang. 


Gambar 1. R. Saleh Syarif Bustaman

Raden Saleh Lahir Tahun 1807, memiliki kegemaran dalam melukis sejak beliau bersekolah di sekolah rakyat. Sejak usia 10 tahun, anak asal terbaya (dekat Semarang) ini diserahkan oleh pamannya, bupati Semarang, kepada orang belanda di Batavia. Kepandaiannya bergaul kemudian memudahkannya masuk ke lingkungan orang-orang Belanda dan lembaga elit Hindia Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk wilayah Jawa dan pulau sekitarnya, menilai Raden Saleh pantas mendapatkan ikatan dinas dari instansinya. Kebetulan di instansi tersebut itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen mantan mahaguru  Akademi seni rupa di Doornik Belanda, yang di datangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di pulau Jawa untuk untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. A.A.J. Payen cukup membantu Raden Saleh menyelami seni lukis barat dan belajar teknik pembuatannya, seperti teknik melukis dengan cat minyak. A.A.J. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi. Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, A.A.J. Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya lukisan Raden Saleh yang dikerjakan dengan dukungan bakat yang tinggi.


Gambar 2. "Javanese Landscape, with tiger listening to the sound of a travelling group" 
by Raden-Saleh, Medium: oil on canvas, Size: 112cm x 156,5cm, Year: 1810 - 1880

Tahun 1829, bersamaan dengan dipatahkannya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock, Van Der Capellen membiayai Raden Saleh untuk belajar melukis ke negeri Belanda. Namun keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda De Linge tentang adat istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Semasa belajar di Belanda keterampilan melukisnya berkembang pesat, wajar bila Raden Saleh dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Selanjutnya Raden Saleh semakin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal di lingkungan seniman Belanda, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat belanda terperanggah. Pandangan masyarakat Belanda bahwa masyarakat jajahan itu “primitif “ gugur seketika.


Gambar 3. "Berburu”  (Hunt) by Raden Saleh, 

Medium: oil on canvas, Year : 1811-1880

Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar “Wis, Land, meet en werktuigkunde’ (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Minister Van Kolonieen, Raja Willem I (1772-1843), dan pemerintah Hindia Belanda, Raden Saleh boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu seperti di Dresden, Jerman. Di sini raden Saleh tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan kerajaan Jerman, lalu meneruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844, kemudian menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.


Gambar 4. "Ship in Storm II" by Raden saleh, Year: 1811 - 1880

Jiwa seni Raden Saleh belum terpuaskan, perkembangan seni lukis Belanda menurut pendapatnya tidak memiliki karakter yang unik, tetapi selalu menyerap aliran seni Perancis. Sejalan dengan waktu, wawasan seni Raden Saleh semakin berkembang seiring dengan kekaguman pada karya tokoh romantisme, Eugene Delacroix (1798-1863), seorang pelukis Perancis terkemuka. Kekaguman pada karya Delacroix itulah yang dinilai banyak orang menjadi inspirasi karya-karya Raden Saleh kemudian. Terutama ketika Raden Saleh berkarya di Perancis (1844-1851). Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh namun disajikan lebih dinamis. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (Religiositas) sekaligus ketidakpastian takdir menjadi tema lukisannya selama berada di Eropa.


Gambar 5. "Berburu Singa" by Raden Saleh, Size: 74cm x 115cm, 

Medium: oil on canvas, Year: 1839

Saat berada di Eropa Raden Saleh menjadi saksi mata terjadinya revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tidak mau mempengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Perancis kenamaan, Horace Vernet, hijrah ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah sejumlah lukisan perkelahian binatang buas dalam ukuran besar. Pemgembaraan di Eropa berakhir tahun 1851, ia pulang bersama istrinya seorang wanita belanda.


Gambar 6. "Lion Hunt on Java" by Raden Saleh, Year: 1811 - 1880

Sepulangnya ke tanah Jawa, Raden Saleh dipercaya menjadi konservator pada Lembaga  Koleksi Benda-benda Seni. Di Batavia ia tinggal di gedung yang dirancangnya sendiri di sekitar Cikini, Batavia. Sebagai tanda cinta terhadap alam dan dunia binatang, Raden Saleh menyerahkan sebagian halaman rumahnya yang sangat luas kepada pengelola kebun binatang. Kini kebun binatang tersebut menjadi Taman Ismail Marzuki, sedangkan rumahnya menjadi rumah sakit Cikini Jakarta.

Gambar 7. "Fighting with a Lion" by Raden Saleh, Year: 1870

Tahun 1875 Raden Saleh berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya pada 23 April 1880. Untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran lukisan Raden Saleh di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan penangkapan Pangeran  Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Raja Willem III dan Pangeran Van Saksen Coburg-Gotha. Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi Raden Saleh  yang semasa di Eropa tampil “aneh” dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara  mereka adalah bangsawan Saksen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Van Den Bosch, Baud dan Daendeles. Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.) Ridder der Kroonorde van Pruisen (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dan lain-lain.


Gambar 8. "Penangkapan Diponegoro I" by Raden Saleh, 

Medium: Oil on canvas, Size: 77cm x 110cm, Year: 1830

Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan atas prestasinya melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara anumerta pada tahun 1969, berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Tokoh Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain dari pemerintah Indonesia adalah pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno dan sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara. Contohnya pada tahun 1967 PTT (PT Pos Indonesia) mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya yang bergambar binatang buas yang sedang berkelahi.


Gambar 9. "Penangkapan Diponegoro II" by Raden Saleh, 
Medium: Oil on canvas, Size: 112cm x 178cm, Year: 1857

Berkat jasa Raden Saleh, bangsa Indonesia dapatlah berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Perancis. Setelah masa raden Saleh, tidak tercatat pelukis pribumi yang mengikuti jejaknya, sehingga terdapat ‘ruang kosong” dalam perkembangan seni rupa modern karya orang pribumi hingga awal abad ke 20.


Gambar 10. "Lion Hunt" by Raden Saleh, Year: 1811 - 1880

Dari sejumlah karya Raden saleh yang dihasilkan, ada satu lukisannya yang membuktikan rasa “nasionalisme” pada diri Raden Saleh yaitu lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di rumah kediaman residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis bersama-sama pengikut Pangeran Dipoegoro yang lain, Jenderal De Cock pun digambarkan kelihatan sangat segan dan hormat yang ditunjukkan pada lukisan itu sedang mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan. Padahal saat penangkapan itu, Raden Saleh masih berada di Belanda. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro, lalu melukiskannya di atas kanvas. Adapun karya seni lukis Raden Saleh yang lain adalah : Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, Perburuan Harimau, Perkelahian dengan singa, Pergulatan Singa dan Ular.

Dapatkan materi "Wawasan Seni Rupa" dalam bentuk pdf DOWNLOAD

Penulis :
Teguh Triwasono, S.Pd.

Kamis, 28 Maret 2019

PARA PEMINUM


Karya : Sutardji Calzoum Bachri

di lereng lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
mereka oleng
tapi mereka bilang
--kami takkan karam
dalam lautan bulan--
mereka nyanyi nyanyi
jatuh
dan mendaki lagi
di puncak gunung mabuk
mereka berhasil memetik bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan



Pembacaan Puisi "Para peminum" karya Sutardji Calzoum Bachri
oleh Salsanas Lingga Widiasasti

“WAWASAN SENI RUPA”


A.   Pengertian Seni

·  Secara istilah, kata seni berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu Sani yang artinya persembahan, pelayanan, dan pemberian (I Gusti Bagus Sugriwa). 
·    Menurut bahasa Belanda, seni berasal dari kata Genie yang dalam bahasa latin disebut genius yang artinya kemampuan luar biasa yang dibawa sejak lahir.
·  Menurut Aristoteles seni adalah peniruan bentuk alam. Namun tidak sekedar itu, pencipta harus menyertakan idenya untuk menambah keindahan seni melebihi alam nyatanya. Teori ini didasari oleh pendapat naturalisme yang dipengaruhi oleh kesenian Yunani kuno.
·     Menurut Herbert Read seni adalah ekspresi. Dalam hal ini Herbert Read lebih mengutamakan seni dari segi proses aktivitas seniman daripada aktivitas fisik sampai aktifitas psikologis. Penuangan hasil pengamatan yang dihubungkan dengan perasaan inilah yang disebut seni oleh Herbert Read.
·     Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah hasil perbuatan manusia yang didasari oleh perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakkan jiwa dan perasaan manusia. 

B.   Cabang-cabang Seni
·    Adapun seni dapat dikelompokkan menjadi beberapa cabang antara lain : seni rupa, seni musik, seni sastra, seni tari dan seni teater (drama).


C.   Pengertian Seni Rupa
·     Seni rupa adalah seni yang cara pengungkapannya diwujudkan dalam bentuk rupa yang meliputi unsur titik, garis, warna, bidang, tekstur, dan gelap terang.
·      Seni rupa disebut juga seni visual karena penggambaran seni rupa berwujud bentuk-bentuk yang dapat dinikmati melalui indra penglihatan serta diciptakan dan diwujudkan manusia sebagai curahan hati nurani yang indah.


D.   Cabang-Cabang Seni Rupa
·      Karya seni rupa dapat dikelompokkan menjadi beberapa cabang antar lain : seni lukis, sebi patung, seni grafis, seni kriya (seni kerajinan), seni arsitektur dan desain ( desaiin interior, desain komunikasi visual, desain produk).
1.   Seni Lukis adalah cabang seni rupa yang berwujud dua dimensi dan sebagai media ekspresinya dapat menggunakan kertas, kanvas dengan bahan cat air, cat alklirik, cat minyak, ataupun bahan lain yang dapat menjadi wahana ekspresi si seniman.
2.   Seni Patung adalah cabang seni rupa yang berwujud tiga dimensi (memiliki panjang, lebar, dan isi) dan sebagai media ekspresinya dapat menggunakan bahan dari batu, semen, kayu, logam ataupun bahan lain yang dapat menjadi wahana ekspresi si seniman.

Gambar 1. Seni Lukis karya Raden Saleh Syarif Bustaman,
dengan judul “Penangkapan Pangeran Diponegoro”.  

Gambar 2. Seni Patung karya Michelangelo, dengan judul “Pieta”
3.    Seni Grafis adalah cabang seni rupa yang berwujud dua dimensi dan dikerjakan melalui teknik cetak sebagai sarana untuk menumpahkan ekspresi si seniman. Seni grafis dapat dibuat dengan teknik sablon (cetak saring), cukil kayu, etsa (pengasaman pada bahan metal).
4.    Seni Kriya adalah cabang seni rupa yang berwujud dua dimensi ataupun tiga dimensi, dan memiliki fungsi praktis maupun fungsi hias serta dapat dibuat dengan aneka bahan. Karya seni kriya dapat diwujudkan dari aneka bahan seperti tanah liat, pandan, bambu, kayu, perak, emas dan sebagainya.

Gambar 3. Seni Grafis karya Tisna Sanjaya,
dengan judul “Lengser Keprabon”.

Gambar 4. Seni Kriya  “Pengrajin sedang membuat batik”.
5.   Seni Arsitektur adalah cabang seni rupa yang ditujukan untuk merancang bangunan (rumah, tempat ibadah, sarana rekreasi, perkantoran, dll) agar memiliki nilai artistik dan estetis.
6.   Desain Interior adalah seni merancang dan menata ruangan atau suatu kegiatan yang berupaya untuk memecahkan masalah akan kebutuhan ruangan yang nyaman dan indah dalam sebuah ruangan, bisa berupa ruangan rumah, perkantoran, kamar hotel, pusat pertokoan, rumah sakit, dll.

Gambar 5. Seni Arsitektur "The Piano House"

Gambar 6. Desain Interior.

7.    Desain Komunikasi Visual adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan kebutuhan masyarakat akan komunikasi rupa yang dicetak, seperti iklan, brosur, undangan, majalah, surat kabar, logo perusahaan, dll.
8.    Desain Produk adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan persoalan kebutuhan masyarakat akan peralatan dan benda sehari-hari untuk menunjang kegiatannya. Misalnya mebel, alat rumah tangga, alat transportasi, alat tulis, pakaian, sepatu, dll.

Gambar 7. Desain Komunikasi Visual
“Cover Buku”.

Gambar 8. Desain Produk “Desain Furniture”. 

E.    Jenis-Jenis Karya Seni Rupa
·         Berdasarkan jenis matra karya seni rupa dapat dikelompokkan menjadi  dua,   yaitu :
1.    Seni rupa dwi matra (dua dimensi) yaitu karya seni rupa yang memiliki bentuk datar atau  dua ukuran (panjang dan lebar) yang hanya dapat dipandang dari arah depan saja. Misalnya lukisan, gambar, tenun, batik.
2.    Seni rupa tri matra (tiga dimensi) yaitu karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang, lebar, tinggi dan volume yang dapat dipandang dari berbagai sisi atau arah pandang. Misalnya patung, guci, seni bangun (arsitektur).
·         Berdasarkan tujuan pembuatannya seni rupa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1.  Karya seni rupa murni adalah karya seni rupa yang diciptakan sebagai sarana atau media berekspresi, rekreasi, terapi, dan komunikasi yang ditujukan sebagai kepuasan batin si seniman. Misalnya seni lukis, seni patung dan seni grafis.
2.  Karya seni rupa terapan adalah karya seni rupa yang diciptakan untuk tujuan fungsional (untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis). Misalnya seni kriya, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual.

F.    Tujuan Penciptaan Seni
·         Karya seni rupa memiliki tujuan penciptaan, antara lain sebagai berikut :
1.  Ekspresi pribadi, merupakan ungkapan emosi terdalam yang diwujudkan dalam berbagai wujud simbolisasi rupa.
2.    Aktualisasi diri, merupakan upaya untuk membangun eksistensi pribadi melalui ungkapan estetis.
3.   Eksperimentasi, merupakan upaya pencarian dan percobaan mengolah berbagai unsur rupa dengan bermacam media untuk mencari originalitas karya yang estetis.
4.  Pembaruan nilai keindahan, merupakan upaya kreatif untuk menciptakan hal-hal baru dalam mengungkapkan seni.
5.   Objek ekonomi, merupakan penciptaan karya seni rupa yang sejalan dengan selera masyarakat atau pemesan untuk alasan perdagangan, galeri lelang, aset kekayaan, maupun peningkatan nilai ekonomis.
6.    Rekaman peristiwa, merupakan proses penciptaan karya seni rupa dengan alasan merekam suatu peristiwa yang terjadi secara menyentuh dan bermakna.
7.  Alat komunikasi, merupakan upaya membangun berbagai gagasan atau imajinasi seniman sehingga dapat dipahami oleh masyarakat penikmatnya.
8. Terapi kejiwaan, merupakan pengayaan jiwa bagi seniman maupun penikmatnya sehingga memperoleh ketenangan, hiburan, pelampiasan, maupun penyehatan rohani.

Gambar 9. “Masjid Agung Jawa Tengah”,
bentuk karya seni sebagai sarana beribadah. 

Gambar 10. Karya seni rupayang berisi 
ajakan untuk berjuang. 

9.   Perluasan wacana, merupakan proses penciptaan atau pagelaran seni rupa untuk meningkatkan apresiasi seni rupa pada masyarakat sehingga memperoleh pengalaman baru dalam mengamati karya seni rupa.
10.  Keagamaan, merupakan media penyampaian ajaran agama, pendukung acara keagamaan, atau sebagai proses pemujaan kepada Tuhan.
11.    Politik, merupakan alat pendukung kampanye dan propaganda ideologi politik tertentu.

G.   Sifat Seni
·     Salah satu sifat karya seni rupa adalah sebagai objek maupun sebagai wahana kreatifitas penciptanya untuk memenuhi aspek kognitif (pengetahuan) manusia dan kebutuhan fisik. Sifat seni rupa dalam beberapa segi terdapat beberapa penekanan utama sejalan dengan proses dan tujuan pembuatan karya sebagai berikut :
1.    Simbolis, merupakan karya seni rupa yang dilambangkan dengan simbol-simbol, baik dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Contoh relief candi dan lambang negara.

Gambar 11. Lambang Negara Indonesia 
“Garuda Pancasila” 

Gambar 12. Seni Lukis karya Basuki Abdullah,
dengan judul “Nyi Roro Kidul”. 


2. Mitologis, merupakan karya seni rupa yang menggambarkan tokoh-tokoh legenda atau ada hubungannya dengan mitos tertentu, contoh Nyi Roro Kidul.

Gambar 13. Karya seni lukis kaligrafi, 
syiar keagamaan dalam bentuk karya seni

Gambar 14. Poster Go Green
sebuah kritisi terhadap kehidupan sosial 
3.   Religius, merupakan karya seni rupa yang dipergunakan untuk menunjang kegiatan keagamaan atau mempermudah dalam penyampaian ajaran agama.
4.   Fungsional, merupakan karya seni rupa yang memiliki sifat untuk memacu kreatifitas dan nilai praktis (kegunaan).
5.    Sosial, merupakan karya seni rupa yang memiliki sifat untuk mengkritisi dan menyadarkan keadaan sosial yang terjadi di masyarakat.

Gambar 15. Iklan kartu perdana telepon seluler,
merupakan bentuk komunikasi suatu produk kepada masyarakat.

Gambar 15. Perangkat gamelan
sebagai tanda peradaban dan pelestarian budaya. 
6.   Inofatif, merupakan karya seni rupa yang menawarkan nilai estetika baru dan sebagai gagasan kreatif.
7.   Ekonomis, merupakan karya seni rupa yang dapat meningkatkan pemasaran dan sebagai aset (investasi).
8.     Komunikatif, merupakan karya seni rupa yang mampu mengungkapkan ide dan gagasan.
9.    Budaya, karya seni rupa yang mampu mengungkapkan tanda peradaban, pelestarian tradisi, dan sebagai identitas kebudayaan.

EVALUASI
A.     Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, e di depan jawaban yang paling tepat !

1.    Seni berasal dari bahasa sansakerta yaitu dari kata….
a.      Genie
b.      Sani
c.      Techne
d.      Art
e.      Vani

2.    Seni rupa sering diartikan sebagai….
a.      Ilmu sosial yang mempelajari keindahan
b.      Desain busana yang indah
c.      Pemandangan alam yang indah
d.      Karya seni yang bersifat terapan
e.      Gubahan karya yang memiliki nilai estetis

3.    Unsur penting dan utama dalam karya seni rupa adalah….
a.      Bentuk, warna, dan kreativitas
b.      Bentuk, aroma, dan penyedap
c.      Bentuk, nada, dan suara
d.      Bentuk, gerak, dan kelembutan
e.      Gerak, nada, dan suara

4.    Seni rupa dua dimensi merupakan salah satu pembagian seni menurut….
a.      Teknik
b.      Fungsi
c.      Bahan
d.      Ekspresi
e.      Matra

5.    Dibawah ini merupakan jenis karya seni rupa, kecuali….
a.      Lukisan
b.      Teater
c.      Patung
d.      Grafis
e.      Iklan

6.    Tujuan diciptakannya karya seni rupa murni adalah sebagai sarana berikut ini, kecuali….
a.      Rekreasi
b.      Sosial
c.      Komunikasi
d.      Pribadi
e.      Ekspresi

7.    Di bawah ini termasuk jenis karya seni kriya, kecuali….
a.      Batik
b.      Tenun
c.      Guci
d.      Candi
e.      Perhiasan

8.    Seni arsitektur dapat digolongkan dalam karya seni….
a.      Murni
b.      Modern
c.      Terapan
d.      Tri matra
e.      Desain

9.   Jenis karya di bawah ini adalah bentuk karya seni rupa tiga (3) dimensi, kecuali….
a.      Guci
b.      Gambar
c.      Patung
d.      Candi
e.      Monument

10.  Sepeda motor yang indah dan menarik dengan model terbaru sering dikategorikan sebagai karya…
a.      Desain komunikasi visual
b.      Teknik mesin
c.      Desain produk
d.      Arsitektur
e.      Desain interior

11.  Poster yang indah dan komunikatif merupakan contoh dari….
a.      Seni grafis
b.      Seni kriya
c.      Desain interior
d.      Desain produk
e.      Desain komunikasi Visual

12.  Daerah berikut ini merupakan penghasil kerajinan batik, kecuali….
a.      Jepara
b.      Solo
c.      Yogyakarta
d.      Pekalongan
e.      Madura

13.  Di bawah ini adalah teknik dalam pembuatan seni kriya tiga (3) dimensi, kecuali….
a.      Teknik sambung
b.      Teknik cetak
c.      Teknik transparan
d.      Teknik pahat
e.      Teknik butsir

14.  Maksud dari sifat estetis media adalah….
a.      Keindahan bahan
b.      Kekuatan teknis
c.      Fisik bahan
d.      Kekuatan bahan
e.      Perwujudan teknis

15.  Hasil karya seni kriya pada zaman Hindu dan Budha pada umumnya digunakan untuk….
a.      Permintaan konsumen
b.      Keperluan rumah tangga
c.      Karya seni kerajinan
d.      Kepentingan keagamaan
e.      Hiasan atau ragam hias

16.  Seni kerajinan yang merupakan hasil produksi dari perusahaan atau pabrik disebut….
a.      Seni reproduksi
b.      Seni terapan
c.      Seni industri
d.      Seni produksi
e.      Kerajinan modern

17.  Bentuk karya seni yang kreatif adalah karya seni yang didalamnya terdapat….
a.      Inovasi
b.      Irama
c.      Apresiasi
d.      Komposisi
e.      Keseimbangan

18.  Karya seni rupa yang menggambarkan tokoh-tokoh legenda atau ada hubungannya dengan mitos tertentu, merupakan bukti bahwa seni rupa memiliki sifat….
a.      Simbolis
b.      Mitologis
c.      Religius
d.      Inovatif
e.      Ekonomis

19.  Tujuan mata pelajaran seni rupa adalah agar siswa….
a.      Menjadi seniman terkenal
b.      Menjadi perancang kreatif
c.      Memperoleh lapangan pekerjaan setelah lulus
d.      Mampu mengasah kreatifitas dan keterampilan
e.      Menjadi anak yang berbakat

20.  Tujuan seorang seniman membuat karya seni adalah….
a.      Agar memperoleh uang sebanyak mungkin secara cepat
b.      Berekspresi pribadi dan mengaktualisasi diri
c.      Alternatif profesi pekerjaan baru
d.      Agar kehidupan tidak membosankan
e.      Sebagai hobi yang bermanfaat

B.     Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar dan jelas!
  1. Jelaskan pengertian seni menurut Ki Hajar Dewantara !
  2. Sebut dan jelaskan tiga (3) jenis karya seni rupa !
  3. Sebut dan jelaskan tiga (3) jenis desain !
  4. Apakah yang dimaksud dengan seni rupa murni ? Sebutkan tiga (3) contoh jenis karyanya !
  5. Apakah yang dimaksud dengan seni rupa terapan ? Sebutkan tiga (3) contoh jenis karyanya !
  6. Mengapa karya seni rupa disebut juga sebagai seni visual ?
  7. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan seni audio visual !
  8. Sebut dan jelaskan tiga (3) fungsi seni !
  9. Mengapa seni arsitektur dapat menjadi identitas kebudayaan suatu daerah ?
  10. Sebutkan salah satu karya seni rupa yang memiliki makna simbolis, dan berikan alasannya mengapa karya tersebut memiliki makna simbolis !

Dapatkan materi "Wawasan Seni Rupa" dalam bentuk pdf DOWNLOAD

Penulis :
Teguh Triwasono, S.Pd.

APRESIASI KARYA SENI RUPA

    Introspection by Teguh Triwasono, S.Pd. Alclyric on canvas 60 X 50 cm APRESIASI KARYA SENI RUPA A.       Pengertian Apresiasi Secara...